Showing posts with label Asal-asalan. Show all posts
Showing posts with label Asal-asalan. Show all posts

Tentang Langkah


Langkah itu terseret menghindarisebuah lubang
Sepertinya ia masih tersesat dijalan yang sama
Kabut yang sama masih menghindaripandangannya
Ia bingung kapan kabut itu akanberlalu

Pernah beberapa kali ia mencobajalan baru
Tapi ia kembali lagi ke jalan ini
Jalan yang selalu membuatnyatersesat
Dan tak kunjung mendapatkancahaya terang

Bahkan sekarang ada pojok khususyang ia temukan
Pojok yang selalu membuatnyameringkuk seperti bayi
Pojok tempat ia menyendiri
Pojok tempat ia melarikan diri



  

pict from here






Angkoters

Sinar matahari itu menyilaukan mataku
Terlihat seperti lampu disko yang terus berkelap-kelip
Selama angkot ini berjalan terus melewati jajaran ruko, gedung dan pepohonan
Di sinilah aku sore ini
Dengan pikiran yang melayang entah kemana
Masih diangkot yang terjebak macet dan diselimuti rasa bosan
Perjalanan ini berasa tak kunjung berakhir



Krik krik tadi bongkar-bongkar notes malah nemu coretan ini
Bingung mau dikasi judul apa
Hihi yang iyanya lagi males mikir buat tulisan baru :p

Bambu



Suara tetesan air itu sudahterdengar hampir dua bulanan ini. Tapi entah mengapa aku selalu suka itu.Terkadang dengan hingar bingarnya penghuni kontrakan dan tetangga sebelah,suara itu malah justru bisa menenangkan pikiranku. Sebenarnya kerannya bisasaja diganti, tapi sampai hari ini masih dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya.Aku jadi teringat akan perkataan dosenku “Suara percikan air dan gesekan daunbambu itu adalah suara-suara yang dapat menenangkan”. Dan entah mengapa dikalalamunanku yang ditemani suara tetesan air itu, aku sering membayangkan suaradaun bambu yang saling bergesakan.

Sewaktu SDdulu, di belakang sekolah kami banyak terdapat rimbunan pohon bambu.  Aku suka sekali dengan suara dedaunan ituyang tertiup oleh angin. Tapi aku paling malas ketika harus membersihkanguguran dedauan itu saat giliran piket menyapu di kelas. Diantara banyaknyarimbunan bambu tersebut, ada satu rimbunan yang lebat yang terdapat di sudutbelakang sekolah. Kami sering dilarang bermain disitu. Karena menurut kabarburung ada ular yang bersarang disitu. Sebagai bocah SD, tentu saja kamipenasaran tentang kebenarannya. Tapi tetap saja tidak ada yang berani beranibermain di dekat situ. Sampai rimbunan itu dibabat habis pun, kami tidakkunjung melihat adanya ular disitu. Jadi sampai sekarang aku hanya menganggapkabar burung itu hanya diciptakan untuk menakut-nakuti kami saja.

Selain suara dedaunannya, akupaling suka melihat rimbunan bambu hijau seperti yang sering muncul difilm-film kungfu. Kalau saja aku yang berada disitu, pasti akan sulit sekaliuntuk keluar, seperti sedang berada di dalam labirin. Haha imajinasi apa itu?

Aku jadi teringat dengan dongengtentang sebuah keluarga yang sudah lama tidak dikaruniai seorang anak, akhirnyamendapatkan seorang bayi di batang bambu yang ditebang suaminya. Hmm…sebenarnya aku sudah lupa bagaimana cerita jelasnya. Tapi sewaktu SD, akusempat mempercayai dongeng itu, seperti kalian yang percaya bahwa bayi itudibawa oleh burung bangau.

Tapi aku kurang suka dengan bambumuda yang sering dijadikan sayur itu. Rebung atau apalah itu namanya. Aku tidaksuka dengan aromanya. Amisnya melebihi aroma udang menurutku.

Hmm…. Jadi ingin mendengar suaradedaunan itu saat ini, apalagi ditemani the hangat dan pisang goreng.  

*senin malam, di kamar kontrakan yang pengap

Kamu dan Hujan


Suara gemericik hujan di atap itu
Selalu mengingatkanku padamu
Padahal tak ada hubungannya antara hujan dan kamu
Tapi sejuk dan damai ketika mendengarnya itu yang  mengingatkanku padamu
Ya kata-katamu selalu menyejukkanku
Kau selalu tahu apa kurang dan lebihku
Kau tahu
Aku masih menyimpan foto-fotomu
Dan masih sering memandangi wajahmu disitu
Apa kamu juga begitu?
Pernah kudengar sekali dari sahabatmu
Kau tak ingin aku menunggu
Tapi tanpa disadari aku masih menunggu
Sampai sekarang aku juga tak tahu apa mau ku
Apalagi mau mu

*Kala hujan turun di kamar kontrakanku
 30 Maret 2011


Blog Archive